ℜ 17 Sya'ban 1431 H

Memaafkan Orang Lain

''Jadilah engkau pemaaf dan serulah (manusia) mengerjakan yang makruf (baik) dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.'' (QS Al-A'raf [7]: 199). Ketika turun ayat tersebut, Rasulullah SAW bertanya kepada Malaikat Jibril. ''Apakah maksud ayat ini, wahai Jibril?'' Jibril menjawab, ''Sesungguhnya Allah menyuruhmu memaafkan orang yang telah menzalimimu, dan bersilaturahim kepada orang yang memutuskan hubungan denganmu.''

Menanggapi ayat tersebut, Ibnu Jarir berkata, ''Allah menyuruh Nabi-Nya supaya menganjurkan segala kebaikan, amal, dan ketataan. Di samping itu juga agar menanggung tantangan orang-orang yang tidak memahami hukum Allah dengan penuh kesabaran dan lapang dada.''

Kata maaf berasal dari al-afwu yang artinya sikap memberi ampun terhadap kesalahan orang lain tanpa ada rasa benci, sakit hati, atau balas dendam. Allah SWT sendiri menyebut dirinya sebagai afuwwun yang artinya Maha Pemaaf. ''Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan orang lain, maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Mahakuasa.'' (QS An-Nisa [4]: 149).

Sifat pemaaf ini dicontohkan Rasulullah SAW dalam kehidupan bermasyarakat. Rasulullah SAW tidak pernah membalas orang lain yang menyakitinya, selama tidak menyinggung masalah agama Islam.

Namun, apabila melecehkan kehormatan Islam dan yang berhubungan dengan hak-hak Allah SWT, beliau tidak memberi maaf. Sebab, pemaafan dalam hal ini berarti pelecehan terhadap hak-hak Allah SWT.

Pernah suatu ketika dalam perang Khaibar, Rasulullah SAW disuguhi kambing bakar yang telah diberi racun oleh Zainab binti Harits, istri Salam bin Misykam, salah seorang pemuka Yahudi. Kemudian beliau mengambil sedikit daging paha kambing itu dan mengunyahnya.

Tetapi beliau tidak menyukainya, lalu dimuntahkan apa yang telah beliau kunyah. Sedangkan Bisyr bin Barra yang makan daging kambing itu, tidak berapa lama kemudian meninggal.

Rasulullah SAW berkata, ''Sesungguhnya tulang ini memberi tahu kepadaku bahwa dirinya telah diberi racun.'' Lalu dipanggillah Zainab dan ditanya atas perbuatannya, dan mengakui perbuatannya. Walaupun Zainab telah berniat jahat akan membunuh Rasul SAW, namun beliau sanggup memaafkannya karena kelapangan hatinya.

Bukan hanya itu, karena sudah terlalu sering Rasulullah SAW disakiti masyarakat jahiliyah, para sahabatnya mengadu agar nabinya yang mulia berdoa supaya musuh-musuh yang di hadapannya langsung diazab Allah SWT. Bahkan, malaikat pun menawarkan dirinya untuk mengangkat sebuah gunung agar ditimpakan kepada kaum yang mendustakan Nabi SAW.

Tapi, apa jawab Nabi SAW? ''Aku diutus bukan untuk melaknati, tetapi aku diutus sebagai dai dan pembawa rahmat. Ya Allah! Berilah petunjuk kepada kaumku. Sesungguhnya mereka tidak mengerti.''

(Ali Farkhan Tsani )
Sumber: admin
Konsultasi Agama



Lowongan Kerja
Bursa Jodoh
Info Haji Kota Bogor
Link Situs



Copyright © 2005 MasjidKotaBogor.Com
Tidak dilarang untuk menyalin isi dari situs ini dengan menulis sumber URL