ℜ 17 Sya'ban 1431 H
Topik Direktori Buletin Jum'at Tahun 2008 [ Kembali ke halaman depan ]
Topik Direktori Buletin Jum'at Tahun 2007 [ Kembali ke halaman depan ]
Tiga Kunci Hidup |   Profil Pribadi Muslim |   Apa Dengan Muharam? |   Kesempurnaan Nikmat Allah |   Memperbaharui Spirit Iman |   Kunci Kemuliaan Jama'ah |   Membangun Umat Yang Berkualitas |   Mendeteksi "Sumber" Bencana |   Nikmat dan Bala |   Konstruk dan Latar Sosiologis Risalah Nabi Muhammad SAW |   7 Kemuliaan Hidup |   Mempertanyakan Emansipasi Kartini |   Melacak Paradigma Pendidikan Islam |   Semua Penyakit Ada Obatnya |   Problematika Umat Islam |   Memaknai Tawakkal |   Solusi Keumatan Berbasis Sitem Kejamaahan |   Pikirkan Akhirat, Jangan Lupa Dunia |   Berlomba Menjadi Yang Terbaik |   Hakikat Kemerdekaan |   Dosa Pemantik Permusuhan dan Kebencian |   Iqra jawabannya |   Hindari Maksiat dari yang Paling Kecil |   Bertanya : Sumber Kesempurnaan |   Bila Semangat Juang Luntur |   Haji Mabrur |   Untuk Jihad, Berbisnislah |   
Topik Direktori Buletin Jum'at Tahun 2006 [ Kembali ke halaman depan ]
Topik Direktori Buletin Jum'at Tahun 2005 [ Kembali ke halaman depan ]
Bekal Cerdas Menyikapi Nikmat dan Musibah

Tanggal Diupload: 02-10-2006 11:03:53
Judul : Bekal Cerdas Menyikapi Nikmat dan Musibah
Uraian : Dari Abi Hurairah RA berkata: Nabi Muhammad SAW pernah mendapat pertanyaan, "Amalan apakah yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga?" Rasulullah menjawab, "Takwa dan akhlak yang baik". (HR. Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Setiap muslim tentu mendambakan kebahagiaan abadi di akhirat kelak. Kenikmatan hidup yang kekal di surga merupakan impian aksiomatik bagi setiap insan yang bersyahadat. Di setiap waktu, di semua amalan, diharapkan dapat berperan sebagai anak tangga yang mengantarkan dia untuk menggapai cita-cita ukhrawinya itu.

Dalam shalat dia meminta, dalam doa dia ratakpkan, dalam dzikir dia pertajam, memohon perkenan agar Allah SWT memasukkan dia ke dalam golongan orang-orang yang memperoleh "dua hasanah" (kebaikan), yaitu dunia dan akhirat.

Kunci Utama Surga
"Banyak jalan menuju surga." Ungkapan tersebut biasa dipakai untuk memotivasi dan memaksimalkan potensi serta upaya untuk mendapatkan suatu ci-tacita. SEgala kekuatan dan kemampuan dikerahkan agar target yang ingin diraih dapat terwujud.

Diantara jalan menuju surga tersebut, Rasulullah menjadikan takwa sebagai sebab terbesar dan terbanyak untuk masuk kedalamnya. Bahkan dalam hadits yang lain beliau menegaskan bahwa takwa adalah raja dan puncak perjalanan seorang hamba menuju surganya. (HR. Ahmad).

Definisi Takwa
Imam Ibnu Rajab dalam kitab "Jami'ul Ulum wal HIkam" memberi deskripsi umum tentang takwa sebagai "Upaya seseorang dalam melindungi dirinya dari hal yang ditakutinya dengan membuat batasan yang dapat menjaganya." Takwa seorang hamba terhadap Tuhannya adalah usaha dari hamba tersebut untuk menjaga dan melindungi dirinya dari kemarahan dan kemurkaan Allah dengan memaksimalkan ketaatan.

Wujud dari ketakwaan dan ketaatan yang sempurna adalah dengan menjalankan segala kewajiban dan menjauhi segala yang dilarang dan syubhat. Termasuk dalam lingkup ini adalah mengerjakan amalan-amalan sunnah dan menjaga diri dari yang makruh. Inilah yang menurut Imam Ibnu Rajab menjadi gambaran ideal dan derajat tinggi ketakwaan.

Keutamaan orang bertakwa
Berbagialah orang yang senantiasa meniti jalan ketakwaan. Dia akan selalu berada di atas rel menuju kebahagiaan hakiki nan abadi.

Hanya orang yang bertakwa saja yang senantiasa cerdas dalam menghadapi ujian hidup. Dia selalu dalam naungan ketenangan, ketentraman hati, kebeningan jiwa yang menjauhkan dirinya dari kegelisahan hidup dan ketakutan yang semu. Apapun badai kehidupan yang melandanya, jiwanya tidak pernah dicekam khawatir dan cemas.

Allah berfirman, "... dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya." (Ath-Thalaq: 2-3).

Ketakwaan adalah wasiat tetap Rasulullah setiap mengutus para sahabatnya ke berbagai wilayah. Imam Muslim meriwayatkan dalam hadits yang panjang dari sahabat Buraidah bahwasanya jika beliau mengutus sahabatnya menjadi gubernur di suatu daerah maka beliau secara khusus memberikan pesan-pesan takwa untuk dirinya terlebih dahulu kemudian dia sampaikan kepada kaum Muslimin di daerah itu secara umum.

Ketakwaan adalah materi inti pembicaraan Salafush-Shalih (generasi terdahulu yang shalih). Tidaklah mereka bertemu dan berkumpul kecuali takwa adalah hiasan pertemua tersebut. Dan tidaklah mereka berpisah kecuali mereka telah saling berwasiat kepada ketakwaan. Beruntunglah orang yang telah menikmati ketawkaan sebagai hiasa langkah hidupnya.

Implikasi Positif
Salah satu realita membanggakan adalah bangsa Indonesia merupakan umat Islam terbesar di dunia. Di sudut manapun kita berada di negeri ini, menjumpai kaum Muslimin bukan hal yang sulit.

Namun, jika secara kuantitas kita bisa berbesar hati, secara kualitas kita justru mengelus dada. Kemana umat Islam yang kita banggakan kala Indonesia dinobatkan sebagai salah satu negara terkorup di dunia? Dimana iman mereka bersemayam kala maksiat semakin merajalela di depan mata? Dimana hasil syahadat dan ibadah yang telah lama dilakukan bila ternyata yang shalat juga mencuri, yang berpuasa juga menipu, yang haji juga merampas harta negara? naudzubillahi mindzalik.

Tampkanya kita masih harus mengakaui bahwa syahadat masih sebatas ucapan. Masih menjadi slogan untuk menarik simpati. Takwa masih jauh dari fungsi memberikan warna.

Menyedihkan, padahal al-Qur'an yang ada di masa sahabat juga al-Qur'an yang ada di tengah kita sekarang. Hadits-hadits Rasulullah juga tidak mengalami distorsi sejarah apalagi berubah dan mengalami pengurangan.

Bila takwa telah menjadi warna kata dan tindakan kita, maka aka lahir pribadi-pribadi yang menawan, menyenangkan bagi setiap makhluk. Orang yang bertakwa adalah orang yang mempunyai sensivitas dan kepekaan sosial yang tinggi.

".... Yaitu beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizeki yang Kami anugerahkan kepada mereka." (Al-Baqarah : 3).

Orang bertakwa juga akan selalu jujur dan benar dalam ucapan serta memiliki kemampuan mentalitas yang tinggi,"... ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, mmemerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji, sabar ketika dalam kesempitan, pendieritaan dan peperangan." (Al-Baqarah:177)

Dalam hadits Mu'adz bin Jabal yang diriwayatkan Imam Ahmad, Tirmidzi, dan al-Hakim, Rasulullah menegaskan bahwa salah satu produk takwa adalah akhlak yang mulia. Di HAdits yang lain beliau juga menginformasikan bahwa orang yang brtakwa akan mampu mencukupkan dirinya dengan penghasilan dan rezeki yang halal. (HR. Ibnu Majah dan BAihaqy yang diperkuat oleh riwayat Imam Ibnu Hibban, al-Hakim dan Baihazi dari sahabat Jabir).
Sumber : Buletin Jum'at PPIB (Pusat Pengembangan Islam Bogor) Media Informasi dan Perekat Umat

Konsultasi Agama



Lowongan Kerja
Bursa Jodoh
Info Haji Kota Bogor
Link Situs



Copyright © 2005 MasjidKotaBogor.Com
Tidak dilarang untuk menyalin isi dari situs ini dengan menulis sumber URL