ℜ 17 Sya'ban 1431 H
Topik Direktori Buletin Jum'at Tahun 2008 [ Kembali ke halaman depan ]
Topik Direktori Buletin Jum'at Tahun 2007 [ Kembali ke halaman depan ]
Tiga Kunci Hidup |   Profil Pribadi Muslim |   Apa Dengan Muharam? |   Kesempurnaan Nikmat Allah |   Memperbaharui Spirit Iman |   Kunci Kemuliaan Jama'ah |   Membangun Umat Yang Berkualitas |   Mendeteksi "Sumber" Bencana |   Nikmat dan Bala |   Konstruk dan Latar Sosiologis Risalah Nabi Muhammad SAW |   7 Kemuliaan Hidup |   Mempertanyakan Emansipasi Kartini |   Melacak Paradigma Pendidikan Islam |   Semua Penyakit Ada Obatnya |   Problematika Umat Islam |   Memaknai Tawakkal |   Solusi Keumatan Berbasis Sitem Kejamaahan |   Pikirkan Akhirat, Jangan Lupa Dunia |   Berlomba Menjadi Yang Terbaik |   Hakikat Kemerdekaan |   Dosa Pemantik Permusuhan dan Kebencian |   Iqra jawabannya |   Hindari Maksiat dari yang Paling Kecil |   Bertanya : Sumber Kesempurnaan |   Bila Semangat Juang Luntur |   Haji Mabrur |   Untuk Jihad, Berbisnislah |   
Topik Direktori Buletin Jum'at Tahun 2006 [ Kembali ke halaman depan ]
Topik Direktori Buletin Jum'at Tahun 2005 [ Kembali ke halaman depan ]
Ibadah Raga dan Ibadah Jiwa

Tanggal Diupload: 20-02-2008 16:54:15
Judul : Ibadah Raga dan Ibadah Jiwa
Uraian :

Kesadaran umat Islam akan kebenaran dua kalimat syahadat sebagai fondasi dasar keislaman seseorang tak perlu diragukan lagi. Kemarahan yang merata di berbagai penjuru akibat munculnya syahadat baru al-Qiyadah al-Islamiyah baru-baru ini membuktikan hal itu.

Umat Islam juga tidak setuju jika ada yang mengutak-atik keyakinannya, seperti shalat, puasa Ramadhan, zakat dan haji. Lihatlah polemik saat ada praktik shalat berbahasa Indonesia oleh sebuah kelompok di Malang, Jawa timur. Hal sama terjadi saat muncul ide memindahkan pelaksanaan ibadah haji di luar bulan-bulan yang sudah ditentukan, seperti dilansir di media massa beberapa tahun lalu.

Tapi, adakah kesadaran yang merata di tubuh umat ini tentang krisis hati yang menimpa kita? Krisis keikhlasan, kejujuran, ketulusan, kasih saying dan cinta. Begitu mudah ditemukan, perbuatan dan aktivitas yang beraroma riya, kamuflase, iri, dengki, dendam, makar, dan sejenisnya. Rupanya, tingkat kesadaran kita tentang dua jenis ibadah ini -ibadah raga dan ibadah jiwa berbeda.

 Karakter wasathiyah (moderat) yang melekat pada agama ini menghendaki adanya sikap tawazun (seimbang). Tawazun maknanya me- nyeimbangkan antara dua hal yang saling melengkapi. Tawazun antara dua jenis ibadah -raga dan jiwa- adalah sikap yang dikehendaki Allah dalam firman-Nya: “Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi.” (QS al-An’aam: 120). Firman Allah lainnya, “Katakanlah: ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (mem- bunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.’ Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya),” (QS al-An’aam: 151)

Syahadatain mengikat dan memadukan dua jenis ibadah ini secara kuat dan sangat erat. Dua kalimah itu mengandung dua unsure persaksian: syahadah al-tauhid dan syahadah al-risalah.

Dua unsur syahadatain inilah yang menjadi kerangka acuan ulama dalam menetapkan syarat diterimanya amal seorang hamba, yaitu: ikhlas, (meniatkan ibadah semata-mata hanya kepada Allah) dan mutaba’ah (mengikuti tuntunan Nabi Muhammad).
Secara sederhana kita bisa menyebutkan bahwa ikhlas sebagai syarat pertama mewakili ibadah jiwa, sedang mutaba’ah sebagai syarat kedua mengikuti ibadah raga. Dapatkah kita membayangkan sebuah amal bernilai di sisi Allah tanpa perpaduan kedua unsur ini?

Betapapun, ibadah jiwa harus mendapat perhatian ekstra, karena: pertama, perhatian orang lebih banyak tertuju pada ibadah raga. Kedua, ibadah jiwa ini sesuatu yang sangat pribadi dan butuh keseriusan mengamalkannya. Ketiga, ia sangat sulit dipantau dan dievaluasi seperti halnya ibadah raga. Keempat, ibadah jiwa adalah landasan yang benar bagi ibadah raga.

Ulama memahami keterpaduan dua unsur ini dengan baik. Hanya saja mereka menggunakan beberapa istilah yang beragam. Ada yang menyebutnya sebagai “lahir dan batin”, “syariat dan hakikat”, dan sebagainya. Walau demikian, makna yang mereka maksudkan adalah sama.

Dalam bukunya Qawa’id al-Ahkam, Al-’Izz bin abdussalam mengatakan: “Hakikat itu tidak keluar dari syariat sama sekali. Syariat mengandung banyak perintah tentang perbaikan hati dengan mengenal Allah, meluruskan tekad, memurnikan niat dan amal-amal hati lainnya. Mengetahui hukum-hukum lahir berarti mengetahui hal-hal besar syariat. Sedangkan memahami hukum-hukum batin berarti memahami hal-hal kecil (detail) syariat. Hal ini tidak dapat diingkari kecuali oleh seorang kafir atau fajir (pen dosa).”

Dengan memahami keterpaduan ibadah raga dan ibadah jiwa, kita bisa memahami pertanyaan yang kerap muncul saat membaca hadits Rasulullah dalam al-Arba’in al-Nawawiyah tentang proses penciptaan manusia dan catatan kitabnya: “Demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya, sesungguhnya bisa jadi ada seorang di antara kalian yang mengerjakan amal ahli surga hingga jarak antara ia dan surga seakan tinggal sejengkal -tapi catatan kitabnya mendahuluinya- lalu ia mengerjakan amal ahli surga, maka ia pun masuk ke dalamnya,” (HR Bukhari dan Muslim).

Bagaimana mungkin seseorang yang telah menghabiskan sebagian besar umurnya untuk mengerjakan amal ahli surga, lalu masuk neraka hanya karena di ujung hidupnya ia mengerjakan amal ahli neraka? Ataupun sebaliknya?

Karena ternyata amal ahli surga yang ia lakukan di sebagian besar usianya adalah ibadah raga, kosong dari ibadah jiwa. Semua amal kebaikan yang ia lakukan hanya konsekuensi dari harapan duniawi.

Wallahu a’alam




Sumber : admin

Konsultasi Agama



Lowongan Kerja
Bursa Jodoh
Info Haji Kota Bogor
Link Situs



Copyright © 2005 MasjidKotaBogor.Com
Tidak dilarang untuk menyalin isi dari situs ini dengan menulis sumber URL