Hakikat Kemerdekaan
Tanggal Diupload: 16-08-2007 11:31:37
Judul : Hakikat Kemerdekaan
Uraian : Tidak ada yang pantas kita ucapkan selain rasa syukur ke hadirat Allah SWT. Atas rahmat dan karunia-Nyalah segenap komponen masyarakat dan bangsa kita dapat merayakan hari kemerdekaan yang ke-62 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2007.
Peristiwa ini sangat bersejarah karena 62 tahun lalu para pemimpin bangsa, bersama seluruh lapisan masyarakat, telah mendeklarasikan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa berdaulat yang berhak menentukan nasibnya sendiri dan telah terbebas dari belenggu penjajahan asing. Kemerdekaan yang diraih merupakan hasil dari sebuah proses perjuangan yang sangat panjang, yang bergelimang dengan darah dan air mata, dan dihiasi dengan pengorbanan yang luar biasa, baik harta maupun nyawa. Semuanya, demi meraih cita-cita dan harapan masa depan yang lebih baik.
Kemerdekaan pada dasarnya merupakan sesuatu yang sangat emosional bagi bagi setiap pribadi maupun bangsa. Kemerdekaan merupakan hak yang sangat asasi dan bersifat fundamental dalam kehidupan. Jika kemerdekaan individu terganggu, maka dengan serta merta ia akan berusaha merebut kembali kemerdekaannya. Kemerdekaan itu akan men- jadikan hidup menjadi lebih berarti dan bermakna, manakala diisi dan dihiasi dengan nilai-nilai, norma-norma, dan amal yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.
Ajaran Islam adalah ajaran yang sangat menghormati kemerdekaan setipa individu dan bangsa. Islam memandang bahwa manusia adalah makhluk yang dilahirkan dalam keadaan merdeka sehingga segala bentuk penindasan dan eksploitasi terha- dap kemerdekaan setiap individu dan bangsa sangat ditentang oleh ajaran Islam. Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa tidak ada diskriminasi kemerdekaan terhadap setiap manusia yang lahir ke dunia, meskipun memiliki berbagai perbedaan latar belakang, suku, kekayaan, kedudukan, status sosial, maupun atribut keduniaan lainnya. Rasul dengan tegas menyatakan dalam sebuah sabdanya: ''Wahai sekalian manusia, kalian semua berasal dari Adam, dan Adam diciptakan dari tanah. Tidaklah orang Arab lebih mulia daripada orang non-Arab, tidak pula orang kulit putih lebih baik daripada orang kulit hitam, kecuali ketakwaannya.''
Adalah suatu sunnatullah bahwa manusia diciptakan dengan beragam karakter dan latar belakang. Bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Namun, adanya perbedaan tidak otomatis menjadikan suatu bangsa menjadi lebih baik dari bangsa lainnya. Allah SWT menciptakan kita berbeda-beda dengan tujuan agar kita saling mengenal dan saling berinteraksi atas dasar prinsip persamaan. ”Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa -bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al-Hujurat:13). Kemudian seseorang atau suatu bangsa dibanding dengan individu/bangsa lainnya hanya ditentukan oleh satu indikator: ketakwaan kepada Allah SWT. Semakin tinggi derajat ketakwaan suatu bangsa, maka akan semakin mulia bangsa tersebut.
Bangsa yang bertakwa akan senantiasa mendapat rahmat dan karunia-Nya. Sebaliknya semakin kufur suatu bangsa, maka akan semakin hina bangsa tersebut. Allah pun akan menurunkan bangsa yang kufur dengan berbagai limpahan azab dan kesulitan hidup, seperti dikisahkan dalam (QS. An-Nahl: 112) ''Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rezekinya datang melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduknya) mengingkari nikmat-nikmat Allah. karena itu, Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.''kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.''
Kemerdekaan, pada hakikatnya, bukanlah semata-mata membebaskan diri dari belenggu penjajahan asing. Tetapi lebih dari itu, kemerdekaan yang hakiki adalah kemampuan untuk membebaskan diri dari belenggu hawa nafsu. Manusia yang merdeka adalah manusia yang mampu memerdekakan dirinya dari berbagai penghambaan kepada selain Allah SWT. Seorang pejabat atau pemimpin yang merdeka adalah pejabat/pemimpin yang mampu membebaskan dirinya dari ambisi-ambisi pribadi (dan kelaurganya), dan hanya memikirkan kepentingan dan kesejahteraan rakyatnya. Dia memandang jabatan itu sebagai amanah yang harus dipertangungjawabkan di hadapan Zat yang maha Merdeka, yaitu Allah SWT. Ia akan selalu berusaha untuk mengikis habis ruang-ruang bagi berkembangnya praktik-praktik KKN. Seorang ulama/cendikiawan yang merdeka adalah ulama yang hanya takut kepada Allah SWT yang selalu menyuarakan kebenaran dan keberpihakan kepada masyarakat banyak. Ia tidak akan melakukan upaya pembodohan kepada masyarakat, apalagi dengan menggunakan dalil-dalil dan alasan-alasan yang sengaja didistorsikan atau disalahtafsirkan.
”Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama[1258]. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathiir: 28).
Seorang penegak hukum (hakim, jaksa, polisi maupun pengacara) yang merdeka adalah orang yang memiliki komitmen kuat untuk menjadikan hukum yang benar sebagai panglima. Asas keadilan dan obyektivitas akan benar-benar dijunjungnya. Ia tidak akan berani mempermainkan hukum hanya karena iming-iming jabatan atau materi. Hukum ditegakkan tanpa pandang bulu.Seorang pegawai yang merdeka adalah orang yang berusaha mengoptimalkan potensi dirinya untuk meraih prestasi kerja yang baik dan bermanfaat, dengan landasan ibadah kepada Allah dan mencari rezeki yang halal. Rakyat dan bangsa yang merdeka adalah rakyat yang kritis dan bertanggungjawab terhadap keselamatan dan kemaslahatan bangsanya, serta menjadikan amar ma'ruf nahyi munkar sebagai bagian integral dari kehidupannya. Rakyat yang merdeka tidak mudah diprovokasi oleh unsur-unsur yang tidak bertanggungjawab yang bermaksud menjadikan mereka sebagai obyek perasan dan kuda tunggangan.
Kita sadar betul bahwa kemerdekaan yang sudah berusia lebih datri setengah abad ini belum mampu menghantarkan masyarakat dan bangsa kita kepada kemerdekaan yang hakiki. Kita masih dihadapkan pada kenyataan adanya penjajahan dalam berbagai bidang kehidupan, sehingga krisis demi krisis datang silih berganti seolah tidak akan pernah berakhir. Krisis kepemimpinan, krisis politik, krisis ekonomi, krisis sosial, krisis hukum dan krisis akhlak. Semuanya merupakan pekerjaan rumah yang semakin kompleks dan berat. Untuk itu, dalam momentum peringatan HUT Kemerdekaan RI kali ini. kita semua harus melakukan langkah-langkah berikut:
Pertama, kita semua harus mawas diri (muhasabah) dan bertobat dengan sebenar-benarnya tobat kepada Allah SWT atas segala sepakterjang kita selama ini yang mencerminkan pengingkaran terhadap ketentuan Allah SWT. Berbagai perilaku buruk, seperti senang mencaci maki, menfitnah, melemparkan kesalahan kepada orang lain, melakukan kebohongan publik, harus segera kita hentikan. Makna syukur terhadap nikmat kemerdekaan harus diluruskan kembali. Jangan sampai
orang lain, melakukan kebohongan publik, harus segera kita hentikan. Makna syukur terhadap nikmat kemerdekaan harus diluruskan kembali. Jangan sampai ungkapan rasa syukur justru malah mengundang azab Allah yang lebih besar, seperti upacara seremonial (penurunan bendera) yang dilakukan sore hari sampai meninggalkan waktu shalat maghrib, dan mengadakan kegiatan kesenian semalam suntuk yang jauh dari nilai-nilai agama.
Kedua, mengisi kemerdekaan dengan kegiatan dakwah, yaitu mengajak diri, keluarga dan lingkungan terdekat pada perbuatan yang ma'ruf dan menjauhkan mereka dari perbuatan yang munkar sehingga melahirkan masyarakat yang memiliki kekuatan akhlakul karimah.
Ketiga, berusaha menggali potensi sumber daya yang dimiliki, baik insani maupun alam, dengan penuh kesungguhan, kekuatan dan kebersamaan dari seluruh komponen bangsa sehingga mampu membebaskan diri dari ketergantungan terhadap kekuatan asing.
Keempat, setiap kita harus berusaha untuk menjadi contoh dan figur manusia yang merdeka.
Wallahu'alam bi ash-showab.
Sumber : admin