ℜ 17 Sya'ban 1431 H
Topik Direktori Buletin Jum'at Tahun 2008 [ Kembali ke halaman depan ]
Topik Direktori Buletin Jum'at Tahun 2007 [ Kembali ke halaman depan ]
Tiga Kunci Hidup |   Profil Pribadi Muslim |   Apa Dengan Muharam? |   Kesempurnaan Nikmat Allah |   Memperbaharui Spirit Iman |   Kunci Kemuliaan Jama'ah |   Membangun Umat Yang Berkualitas |   Mendeteksi "Sumber" Bencana |   Nikmat dan Bala |   Konstruk dan Latar Sosiologis Risalah Nabi Muhammad SAW |   7 Kemuliaan Hidup |   Mempertanyakan Emansipasi Kartini |   Melacak Paradigma Pendidikan Islam |   Semua Penyakit Ada Obatnya |   Problematika Umat Islam |   Memaknai Tawakkal |   Solusi Keumatan Berbasis Sitem Kejamaahan |   Pikirkan Akhirat, Jangan Lupa Dunia |   Berlomba Menjadi Yang Terbaik |   Hakikat Kemerdekaan |   Dosa Pemantik Permusuhan dan Kebencian |   Iqra jawabannya |   Hindari Maksiat dari yang Paling Kecil |   Bertanya : Sumber Kesempurnaan |   Bila Semangat Juang Luntur |   Haji Mabrur |   Untuk Jihad, Berbisnislah |   
Topik Direktori Buletin Jum'at Tahun 2006 [ Kembali ke halaman depan ]
Topik Direktori Buletin Jum'at Tahun 2005 [ Kembali ke halaman depan ]
Mempertanyakan Emansipasi Kartini

Tanggal Diupload: 27-04-2007 07:58:28
Judul : Mempertanyakan Emansipasi Kartini
Uraian : Oleh: Roni Candra

“… Dari kaum perempuanlah manusia itu pertama-tama menerima pendidikan. Di pangkuan prempuanlah seseorang mulai belajar merasa, berfikir, dan berkata-katta. Makin lama makin jelas bagi saya, bahwa pendidikan yang mula-mula itu bukan tanpa arti bagi kehidupan…. Apa yang saya perjuangkan, mungkin tidak pernah akan saya nikmati. Tapi saya sudah merasa senang bahwa saya ikut memikirkan datangnya Abad Baru itu… “ (R.A. Kartini)

Zaman kaum perempuan bergerak di Indonesia dibuka oleh pikiran Kartini sampai terbangunnya organisasi-organisasi perempuan sejak tahun 1912. Kegiatan mereka pada awalnya menekankan pendidikan yang membuka cakrawala kaum perempuan, misalnya: memasak, merawat anak, melayani suami, menjahit, dan lain-lain. Lebih jauh dari itu, mereka memberikan pula kesadaran, yang belakangan disebut “emansipasi wanita”, bahwa kaum perempuan sederajat dengan kaum laki-laki.

Yang  menjadi harapan Kartini diatas, sangatlah membantu bagi kebanyakan perempuan
Indonesia di kala itu. Kalau selama ini mereka hanya berkutat di ‘dapur-sumur-kasur’, dengan adanya kesadaran baru yang dibangun Kartini untuk lebih memajukan kaumnya, mereka bisa men
mendapatkan hak-hak yang selama ini dikebiri.

Dalam kumpulan surat-surat R.A. Kartini yang berjudul ‘Door Duisternis To Licht’, hampir di setiap halamannya penuh dengan kata-kata perlunya ‘pengembangan watak dan pembentukan watak di atas pendidikan otak’, karena dengan pembentukan watak manusia akan lebih mampu untuk berdiri sendiri tidak bergantung pada siapapun.

Terlepas dari cita-cita mulia yang diemban Kartini untuk ‘memelekkan’ mata perempuan Indonesia, ternyata pola pengembangan perempuan yang diajukan olehnya sangat dipengaruhi oleh gerakan wanita di negeri Belanda, yang juga menjadi sumber inspirasi wanita di seluruh dunia terutama di Perancis, Belgia, dan Amerika sejak tahun 1920-an.

Dan kalau ditelusuri lebih jauh, di Amerika, studi tentang wanita makin jelas dengan munculnya tiga gelombang gerakan feminisme. Feminisme gelombang pertama, berkembang pada abad XIX dan awal abad  XX. Pada masa ini terdapat tiga aliran feminisme. (1) feminisme liberal, berusaha memperjuangkan perubahan legislatif untuk mendapatkan hak pendidikan, hak milik, pengaturan kelahiran, perceraian, pekerjaan dan hak pilih; (2) feminisme utopia, menuntut pemerataan pekerjaan dan pendapatan; (3) feminisme marxis, menuntut partisipasi penuh wanita dalam produksi dan berakhirnya penindasan wanita.

Feminisme gelombang kedua, akhir decade 1960-an dan awal 1970-an, ditandai oleh kehadiran Women Liberation Movements yang kemudian dikenal feminisme radikal. Gerakan feminisme ini ditandai oleh dua hal pokok: (1) tuntutan akan demokrasi yang bersifat partisipatoris dan the personal is political; dan (2) melihat persoalan wanita pada konflik yang mendasar antara wanita dan laki-laki. Secara khusus, feminisme radikal ini ditandai dengan diskusi dan aksi politik di seputar isu-isu reproduksi (aborsi, kontrasepsi) dan kekerasan (perkosaan, penyalahgunaan seksual).

Sedangkan feminisme gelombang ketiga, awal 1980-an dan awal 1990-an, ditandai oleh pemahaman atas gerakan feminisme yang semakin beragam (seperti radikal/sosialis, standpoint, liberal atau reformis, cultural, dan yang saat ini popular dengan gerakan post-modernis.

Dengan beragamnya gerakan feminisme, maka semakin banyak pula hal-hal yang selama ini dianggap tabu bagi seorang perempuan, dikemudian hari menjadi sebuah kemestian, apabila ia ingin disebut seorang wanita yang mengikuti perkembangan zaman. Seperti tergambar dari varian-varian gelombang gerakan feminisme di atas.

Seiring dengan semakin sempitnya dunia oleh serangan globalisasi kultur barat yang permissive dan nyaris memenuhi seluruh pelosok bumi, maka Dunia Timur (Islam) pun tak bisa mengelak dan dengan setengah terpaksa ikut serta dalam kampanye yang sangat bertentangan dengan tradisi ketimuran.

Hal ini diperparah lagi oleh muatan ideology yang mengiringi globalisasi kultur Barat di dunia Timur. Gastaff Labon, seorang Inggris yang ekstrim menyatakan bahwa Timur tidak akan pernah mempunyai peradaban yang rusak (tak bermoral), kecuali bila kaum wanitanya melepaskan jilbab, dan Al-Qur’an yang merupakan pedoman hidupnya juga dijauhkan. Minuman keras, narkotik, dan perbuatan-perbuatan maksiat serta kemungkaran harus pula dimasukkan kepada mereka, sehingga lenyaplah kekuatan spiritual Islam dalam diri mereka.

Michael Gorbachev –sebagai contoh- dalam bukunya  ‘Prestroika’ menyatakan bahwa di era globalisasi ini banyak kita temukan problematika dekadensi moral dalam pribadi remaja. Penyebab utamanya adalah kondisi rumah tangga yang berantakan. Hal ini merupakan kesalahan yang telah kita perbuat, karena kita telah menyamakan hak pria dan hak wanita dalam segala segi kehidupan.

Bagi Ashar S. Munandar (1985), emansipasi wanita merupakan penghayatan subyektif dari wanita terhadap perannya. Jika wanita menghayati perannya sebagai suatu tekanan, maka beremasipasilah ia, sebaliknya jika ia menghayati perannya sebagai sesuatu yang menyenangkan, maka ia tak per;lu beremansipasi. Atau perlukan kita sadarkan semua wanita terlebih dahulu akan kemungkinan peran mereka yang berbeda-beda dan baru menyerahkan kembali kepada pertimbangan masing-masing? Kalau kita menyadarkan para wanita yang masih dapat menerima perannya sebagai yang Melayani, perlu kita pikirkan kemungkinan akibatnya. Ada kemungkinan kita malah mengganggu kebahagiaan yang telah mereka peroleh dan justru menimbulkan masalah atau keretakan dalam keluarga.

Kita juga dapat bersepakat untuk memilih salah satu dari tipe peran wanita yang dijadikan peran utama wanita Indonesia. Apakah tak baik kalau tipe wanita yang Melayani? Jika semua wanita tak bekerja, maka pengangguran akan sangat turun. Ataukah lebih baik tipe yang Bekerja? Kalau ini yang dipilih, perlu dipikirkan penampungan, perawatan dan pendidikan anak-anak yang lebih baik. Ataukah kita pilih tipe wanita yang Mandiri sebagai tipe peran yang ideal untuk wanita Indonesia? Bisa-bisa saja nanti emansipasi berkembang menjadi emansipasi pria.

Oleh karena itu Dr. Ratna Megawangi (1998) menawarkan jalan tengah untuk menghadapi gelombang tragedi ‘emansipasi Kartini’ ini dengan ekofeminisme (ecofeminism). Sebuah gerakan yang bertujuan untuk menyadarkan para perempuan bahwa kualitas pengasuhan, pemeliharaan, dan cinta adalah fitrah perempuan di mana ia berhak untuk mengaktualisasikannya di mana pun ia berada, termasuk apabila ia berada di dunia maskulin.

Ekofeminisme mengajak para perempuan untuk bangkit melestarikan kualitas feminim agar dominasi sistem maskulin dapat diimbangi. Karena sistem maskulin yang mewarnai peradaban modern, telah merusak dan menutupi nilai sakral kualitas feminim yang merupakan fitrah perempuan. Contoh kongkretnya, banyak perempuan yang merasa ‘tidak berguna’ kalau ia hanya bekerja mengasuh anak-anaknya, karena mereka percaya keberhasilan standar sistem maskulin yang terbaik. Para perempuan yang tergabung dalam gerakan feminisme liberal, radikal, dan Marxist, juga turut melestarikan sistem maskulin dengan propagandanya bahwa perempuan yang berperan sebagai ibu adalah “dewi tolol” di sangkar emas.

Dengan begitu, lanjut Megawangi, ukuran kemajuan dan kehebatan perempuan dengan memakai standar maskulin (uang, status, kekuasaan), adalah tidak relevan.

Abdurrahman al Baghdadi (2001) dengan nada yang sedikit keras malah mengatakan emansipasi wanita terhadap pria bukan merupakan suatu permasalahan yang patut didiskusikan atau menjadi sasaran yang perlu diperhitungkan di dalam Islam. Sebab keberadaan wanita itu sederajat dengan pria; atau wanita itu setara dengan pria. Jadi masalah ini tidak berpengaruh terhadap kehidupan sosial. Disamping itu juga tidak hanya terdapat di Barat (Eropa) dan tidak akan dilontarkan oleh seorangpun dari kaum muslimin kecuali yang mengekor kepada Barat.

Dari beberapa pemaparan di atas, konklusi sederhananya jangan-jangan kita yang selalu salah dalam menerjemahkan ajaran Islam terhadap peran wanita. Oleh karena itu, layaklah kita bertanya ada apa dengan gerakan emansipasi wanita yang disimbolkan kepada ‘Ibu Kita Kartini’?

Wallahu’alam bishawab
Sumber : admin

Konsultasi Agama



Lowongan Kerja
Bursa Jodoh
Info Haji Kota Bogor
Link Situs



Copyright © 2005 MasjidKotaBogor.Com
Tidak dilarang untuk menyalin isi dari situs ini dengan menulis sumber URL