ℜ 28 Ramadhan 1431 H
Topik Direktori Buletin Jum'at Tahun 2008 [ Kembali ke halaman depan ]
Topik Direktori Buletin Jum'at Tahun 2007 [ Kembali ke halaman depan ]
Tiga Kunci Hidup |   Profil Pribadi Muslim |   Apa Dengan Muharam? |   Kesempurnaan Nikmat Allah |   Memperbaharui Spirit Iman |   Kunci Kemuliaan Jama'ah |   Membangun Umat Yang Berkualitas |   Mendeteksi "Sumber" Bencana |   Nikmat dan Bala |   Konstruk dan Latar Sosiologis Risalah Nabi Muhammad SAW |   7 Kemuliaan Hidup |   Mempertanyakan Emansipasi Kartini |   Melacak Paradigma Pendidikan Islam |   Semua Penyakit Ada Obatnya |   Problematika Umat Islam |   Memaknai Tawakkal |   Solusi Keumatan Berbasis Sitem Kejamaahan |   Pikirkan Akhirat, Jangan Lupa Dunia |   Berlomba Menjadi Yang Terbaik |   Hakikat Kemerdekaan |   Dosa Pemantik Permusuhan dan Kebencian |   Iqra jawabannya |   Hindari Maksiat dari yang Paling Kecil |   Bertanya : Sumber Kesempurnaan |   Bila Semangat Juang Luntur |   Haji Mabrur |   Untuk Jihad, Berbisnislah |   
Topik Direktori Buletin Jum'at Tahun 2006 [ Kembali ke halaman depan ]
Topik Direktori Buletin Jum'at Tahun 2005 [ Kembali ke halaman depan ]
Apa Dengan Muharam?

Tanggal Diupload: 17-01-2007 14:33:27
Judul : Apa Dengan Muharam?
Uraian :
Muharram adalah bulan pertama dalam hitungan kalender Islam, atau lebih terkenal dengan "tahun Hijriah". Berbeda dengan tahun Masehi yang dihitung berdasarkan perputaran Bumi terhadap Matahari, tahun Hijriah dihitung berdasarkan perputaran Bulan terhadap Bumi. Satu bulan terdiri atas 29 atau 30 hari, dan satu tahun terdiri atas 12 bulan.

Sesuai dengan namanya, Hijriah yang berarti hijrah atau berpindah, hitungan "1" kalender Islam dimulai ketika Rasulullah hijrah dari Makkah ke Madinah. Ini bertepatan pada hari Jumat 16 Juli 622 Masehi - Usia Rasul saat itu sekitar 53 tahun. Rasulullah hijrah sesuai dengan perintah Allah, yang salah satu analisisnya adalah menyelamatkan kaum muslimin dari siksaan kaum kafir di kota Makkah. Sebelumnya, sebagian besar kaum muslimin sudah hijrah terlebih dahulu dan tidak mendapatkan rintangan dari kaum kafir - kelak mereka disebut Kaum Muhajirin, yaitu kaum yang hijrah. Di dalam rombongan itu tedapat Umar bin Khatab r.a., yang dengan lantang dan gagahnya berkata, "Ini Umar hendak hijrah, siapa yang ingin istrinya menjanda dan anaknya yatim karena ingin menghalangi Umar silakan maju!"

Mungkin kaum kafir saat itu sengaja membiarkan rombongan muslim hijrah, supaya semakin sedikit orang-orang di sekliling Rasul. Dengan demikian, semakin gampang Abu Jahal dan kawan-kawan memperdaya Rasul. Ketika sudah saatnya Rasulullah hijrah, orang yang pertama dikabarinya adalah Abu Bakar r.a. Seluruh kaum kafir di Makkah sudah siaga menghalangi kepergian Rasul. Ali bin Abi Thalib ditugaskan tidur di kamar Rasul sebagai taktik mengecoh kaum kafir. Rasulullah dan Abu Bakar keluar dengan tenang, berjalan di tengah-tengah patroli kaum kafir yang tidur berdiri karena kekuasanNya.

Cerita tidak hanya berhenti di sana. Saat harus berlindung di sebuah goa, Abu Bakar r.a. sedikit khawatir kalau-kalau ada patroli dari kaum kafir yang mengetahui persembunyian mereka. Jawab Rasul dengan lembut: "Wahai Abu Bakar, janganlah engkau khawatir karena sesungguhnya Allah bersama kita." Disebutkan dalam Riwayat, di saat itulah iman Abu Bakar r.a. menjadi sempurna. Selanjutnya Alkisah menyebutkan, beberapa laba-laba atas perintah Allah menutupi mulut goa dengan jaring-jaringnya sehingga terlihat laksana sebuah goa yang tidak pernah dimasuki oleh mahluk hidup.

Di Madinah, masyarakat menyambut baik kedatangan kaum muslimin dari Makkah. Tiga tahun sebelumnya, sekelompok masyarakat Madinah sudah ada yang menerima Islam. Dalam beberapa analisis disebutkan, sebagian besar orang-orang di Madinah adalah mereka-mereka yang masih beriman kepada Taurat dan Injil, yang di dalamnya disebutkan akan datangnya Nabi terakhir yang menyempurnakan agama yang dibawa Nabi Ibrahin a.s. Fakta-fakta inilah yang membuat Islam cepat diterima dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Madinah - kaum muslimin dari kota Madinah kelak disebut Kaum Ansar.

Pada tahun 1 Hijriah ini juga, Rasulullah mendirikan Masjid Nabawi dan Bilal r.a. mengumandangkan azan untuk pertama kalinya atas perintah Rasul. Menyusul kemudian Rasul juga memulai menyusun bentuk pemerintahan yang Islami, baik dari segi fisik (infrastruktur, administrasi) ataupun non-fisik (spiritual, sosial, budaya dan pendidikan). Kelak, bentuk inilah yang kemudian disebut sebagai "Masyarakat Madani," sebagai sebuah tatanan sosial ideal yang diidam-idamkan oleh banyak filosof abad ini. Juga mengilhami gerakan “Civil Society”

Tahun kedua Hijriah ditandai dengan bergantinya arah kiblat, dari semula Masjid Al-Aqsa (Jerusalem) ke Masjid Al-Haram (Makkah), di mana Ka'bah berada. Pelaksaan puasa di bulan suci Ramadhan juga dilakukan pada tahun ini. Sejarah lain adalah Ali bin Abi Thalib r.a. menikahi sayyidah Fathima r.a. Dan, salah satu peristiwa penting di tahun kedua Hijriah ini adalah Perang Badar, perang pertama yang dilakukan umat Islam, perang yang penuh mukjizat dan hikmah, perang yang menjadi titik balik perjuangan umat Islam.

Renungan 1 Muharram

Tanpa hingar bingar liputan media dan tanpa sambutan pesta diskon supermarket, serta tanpa letupan kembang api dan riuh rendah teropet (biasanya mengiringi prosesi pergantian tahun baru layaknya) umat Islam merayakan Tahun Baru 1 Muharram 1428 H. Sekedar mengingatkan saja, sepertinya sudah banyak yang tidak menyadari fenomena ini.

Dalam diennul Islam, digunakan istilah tahun Hijriyah, yang diawali dengan migrasi Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya dari Makkah ke Madinah. Dimaknai sebagai suatu suatu proses migrasi yang panjang, berat, dan melelahkan, disamping penuh makna dan hikmah (proses yang tidak mudah untuk dilakukan pada waktu itu).

Hikmah yang diajarkan adalah bahwa manusia perlu “berhijrah, bermigrasi untuk menjadi lebih baik”. Berpindah dari Medan ke Bogor, atau dari Jampang ke Bubulak dst, termasuk hijrah geografis. Beralih profesi dari tukang kredit ke tukang kebun termasuk hijrah pekerjaan/profesi. Berpindah posisi dari ketua panitia ke manager sebuah lembaga termasuk hijrah posisi/jabatan, Berubah kelakuan dari munafik ke amanah termasuk hijrah prilaku/karakter, Bahkan ada orang melakukan migrasi dari dunia glamour/kekuasaan ke dunia yang suluk/sufi termasuk hijrah Spiritual. Lalu posisi kita dimana?

Sepanjang sejarah hidup, sudahkah kita melakukan hijrah yang bermakna signifikan dalam momentum hidup kita? Dalam artian melakukan perubahan mendasar yang mengarah kepada kualitas hidup dan kehidupan kita dalam dimensi yang lebih luas. Mari kita cermati dan introspeksi diri. Atau kita masih bergulat dengan rutinitas tanpa makna atau malah terbelenggu oleh keinginan semu untuk memenuhi kepuasan nafsu kita yang tiada habisnya? Yah semisal; nafsu menumpuk-numpuk harta, mengejar popularitas, kekuasaan dan jabatan, melampiaskan sahwat dan hobby berlebihan. Sedikitnya memperturutkan kehandak gengsi dan ego diri yang tak kunjung padam? Semestinya sebagai muslim yang baik semakin dimakan umur semikin arif dalam bersikap, semakin bijak dalam bertindak dan semakin santun dalam berlisan serta semakin berkualitas dalam berkarya.

Hampir setiap tahun baru tiba, kita selalu merasa menjadi orang yang selalu merugi. Saat kita duduk di bangku sekolah/kuliah atau masih di pesantren, kita sering Shalat Dhuha dan rajin shalat malam, tidak ketinggalan tadarus, kebiasaan ini berlanjut hingga lulus. Selalu terbangun saat adzan subuh, karena itu berarti waktunya pergi ke masjid untuk berjamaah. Tidak seperti sekarang yang tidak pernah mendengar lagi suara adzan shubuh lagi? Kalaupun berkesempatan mendengar, itu adalah sebagai panggilan untuk tidur kembali? Atau kalau pun terbangun, masih saja meles-malesan dengan mata ngantuk dan geliat sana geliat sini. Masihkan itu terjadi pada diri kita masing-masing? 

Walaupun mungkin belum setiap hari, tapi kita dulu selalu berusaha membaca Al Qur’an sehingga kitab lusuh itu selalu dalam posisi yang strategis untuk dijangkau tangan. Apalagi saat-saat menjelang ujian, ketika ditimpa musibah, waktu istri hamil, Saat ini Qur’anku berada tersembunyi dibelakang Koran, buku pengetahuan umum (best seller karya orang beken), majalah-majalah fotografi, Buku-buku sastra, novel dan cerpen, La-Tahzan, ESQ, Risalah Nabawiyah (yang tidak pernah kubaca), Virus Akal Budi, dan buku-buku teknik hasil fotokopian. Duh, bulan ini kapan terakhir kali aku buka Qur’an yah? Itu mungkin diantara sederet pertanyaan yang mencul di dalam benak sebagian diri ini. Akan tetapi mengapa setiap akhir tahun selalu saja kejadiaan itu masih berulang? Tanya kenapa?

Muharram 1424 hijriah kini datang menemui kita sementara kita sudah siap sedia untuk menyambut kedatangannya atau pun kita masih hanyut dibuai mimpi indah tanpa menghiraukan tentang perjalanan waktu yang begitu cepat berlalu. Rasanya baru saja kita bersama tahun 1427 hijriah dan kini ia akan pergi meninggalkan kita bersama kenangan dan nostalgia indah dan duka yang tercatat dalam diari perjalanan hidup kita. Muharram mengingatkan kita kepada hijrah Rasullullah SAW dari kota Mekah ke kota Madinah dalam mencari kuasa ke arah merubah tatanan sosial  dan peradaban dunia yang dinodai oleh kesyirikan dan kesesatan kerana kekuasaan pemerintahan pada masa itu berada dalam genggaman tangan mereka yang tidak layak untuk menjalankan amanah Allah.

Kini hijrah sebagaimana Rasulullah SAW itu mungkin tidak terjadi lagi, akan tetapi penghijrahan dari alam kesesatan sekular atau tata aturan ciptaan manusia yang dhoif akan terus berlaku sehingga tertegaknya kembali tata aturan Islam hakiki yang telah lama diruntuhkan. Akankah Dunia akan kembali ceria dan aman apabila Islam berjaya kembali serta bertakhta di atas singgahsananya yang sebenarnya nanti? Upaya ke arah itu tentu menjadi tanggungjawab kita bersama (umat islam). Hijrah untuk kita juga berkaitan dengan sikap dan amalan diri kita sendiri, adakah kita sudah mampu merubah diri dari peralihan masa kini? atau pun memang kita terus berpuas hati dengan segala apa yang ada, tanpa ada niat dan usaha ke arah melakukan reformasi pada diri sendiri ke arah yang lebih baik dari hari sebelumnya. Tidak gelisahkah kita bila memikirkan bahwa dengan berlalunya 1427 hijriah dan tibanya tahun 1428 hijriah ini maka dengan sendirinya bertambahlah umur kita. Tidak risaukah kita jika umur kita bertambah seiring dengan bergandanya dosa kita, sementara pahala kita belum tentu bertambah pula.

Semoga kedatangan tahun baru hijriah ini kita mampu menyambutnya dengan pelbagai amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan juga mampu merubah diri ke arah yang lebih baik. Sudahkan kita perbanyak bertaubat kepada Allah atas segala dosa yang lalu? Tidakkah kita merasa hina dan kerdil bila mengingatkan bagaimana Rasulullah SAW sendiri yang telah terjamin akan masuk syurga dan juga terhindar dari noda dan dosa, tetapi sentiasa bertaubat kepada Allah? Sedangkan kita yang tidak lepas dari jeratan dosa terus hidup dengan bergelimang dosa itu tanpa bertaubat kepada Allah. Adakah kita merasakan tidak ada waktu untuk bertaubat sedangkan masa untuk membuat maksiat begitu banyak, atau pun merasakan dosa yang dilakukan itu merasa kecil dan tidak berupaya bertaubat. Ingatlah kita bahwa dosa yang kecil pun turut akan ditayangkan oleh Allah di padang Mahsyar nanti dan ia turut menjadi saham untuk dapat menjerumuskan kita ke lembah neraka yang panas membakar. Gunakanlah segala peluang yang ada dengan berdoa, bertaubat, sholat sunat dan taubat, beristighfar, berpuasa sunat dan amalan lainya, selagi ada waktu.
Sumber : Admin

Konsultasi Agama



Lowongan Kerja
Bursa Jodoh
Info Haji Kota Bogor
Link Situs



Copyright © 2005 MasjidKotaBogor.Com
Tidak dilarang untuk menyalin isi dari situs ini dengan menulis sumber URL